Selamat datang di **Paragraf Beracun**.
Blog ini ditulis bukan untuk menyenangkanmu.
Tapi kalau kamu kuat, mungkin kamu akan jatuh cinta.
Dengan racun ini.
Kami menulis tentang hidup...
Yang seringnya tidak hidup-hidup amat.
Tentang cinta...
Yang kadang kayak utang, ditagih terus tapi nggak pernah jelas statusnya.
Dan tentang jualan...
Yang caption-nya lebih pedes dari sambel Mbok'e, tapi laris manis di checkout.
Di sini kamu akan nemuin:
- Esai satir yang mungkin akan bikin kamu sadar... atau ngamuk.
- Kisah cinta absurd yang terlalu nyata buat dianggap fiksi.
- Jurus caption buat dagang, nyinyir tapi bikin pembeli menyesal kalau nggak beli.
Kami bukan influencer.
Kami bukan motivator.
Kami cuma penjual kata.
Yang mungkin akan bikin kamu ketagihan.
---
**Tagline kami:**
> *Kata-kata murah, dampak mahal.*
> *Tendangan literasi tanpa ampun.*
> *Selamat membaca. Dan jangan baper.*
Ttd,
**Tukang Cubit Legendaris**
(Pengelola blog ini. Kadang cinta, kadang sarkas.)
Anak itu semacam karya yang belum jadi. Masih mentah. Masih nyari bentuk. Kalau dia AI, ya masih versi gratisan—belum premium, belum di-training sama dunia. Dia butuh script. Butuh input. Dan lucunya, input-nya itu... ya dari kita, para orang tua. Dari cara kita tertawa yang kaku Sampai caranya kita ngomel pas kehabisan sabun mandi. Semua direkam, disalin, dipraktikkan. Dia itu makhluk copas yang handal. Tapi juga jujur. Karena dia nggak tahu mana yang layak disalin dan mana yang sebaiknya disimpan dalam draf. Kadang kita heran, “Kok anakku temperamennya tinggi ya?” Padahal tiap pagi dia nonton kita ribut soal remote TV, Atau cara kita nyetir yang tiap lima detik isi: klakson, umpatan, dan doa setengah ikhlas. Anak itu bukan cermin. Dia lebih dari itu. Dia semacam project terbuka, open source. Siapapun bisa ngedit, masukin script, tinggal drag and drop aja. Makanya kadang anak kita bisa sopan banget ke guru, Tapi ngambek setengah mati sama ibunya sendiri. Karena dia tahu, yang satu itu...
Komentar
Posting Komentar