Anak itu semacam karya yang belum jadi. Masih mentah. Masih nyari bentuk. Kalau dia AI, ya masih versi gratisan—belum premium, belum di-training sama dunia. Dia butuh script. Butuh input. Dan lucunya, input-nya itu... ya dari kita, para orang tua. Dari cara kita tertawa yang kaku Sampai caranya kita ngomel pas kehabisan sabun mandi. Semua direkam, disalin, dipraktikkan. Dia itu makhluk copas yang handal. Tapi juga jujur. Karena dia nggak tahu mana yang layak disalin dan mana yang sebaiknya disimpan dalam draf. Kadang kita heran, “Kok anakku temperamennya tinggi ya?” Padahal tiap pagi dia nonton kita ribut soal remote TV, Atau cara kita nyetir yang tiap lima detik isi: klakson, umpatan, dan doa setengah ikhlas. Anak itu bukan cermin. Dia lebih dari itu. Dia semacam project terbuka, open source. Siapapun bisa ngedit, masukin script, tinggal drag and drop aja. Makanya kadang anak kita bisa sopan banget ke guru, Tapi ngambek setengah mati sama ibunya sendiri. Karena dia tahu, yang satu itu...