Anak itu semacam karya yang belum jadi.
Masih mentah. Masih nyari bentuk.
Kalau dia AI, ya masih versi gratisan—belum premium, belum di-training sama dunia.
Dia butuh script. Butuh input.
Dan lucunya, input-nya itu... ya dari kita, para orang tua.
Dari cara kita tertawa yang kaku
Sampai caranya kita ngomel pas kehabisan sabun mandi.
Semua direkam, disalin, dipraktikkan.
Dia itu makhluk copas yang handal. Tapi juga jujur.
Karena dia nggak tahu mana yang layak disalin dan mana yang sebaiknya disimpan dalam draf.
Kadang kita heran,
“Kok anakku temperamennya tinggi ya?”
Padahal tiap pagi dia nonton kita ribut soal remote TV,
Atau cara kita nyetir yang tiap lima detik isi: klakson, umpatan, dan doa setengah ikhlas.
Anak itu bukan cermin. Dia lebih dari itu.
Dia semacam project terbuka, open source.
Siapapun bisa ngedit, masukin script, tinggal drag and drop aja.
Makanya kadang anak kita bisa sopan banget ke guru,
Tapi ngambek setengah mati sama ibunya sendiri.
Karena dia tahu, yang satu itu audience,
Yang satu lagi... editor utama.
Tapi jangan salah,
Anak juga bukan kertas kosong.
Dia punya format file-nya sendiri.
Kita cuma bantu ngetik, ngerapiin,
Kadang kita malah typo.
Dan itu yang mereka copas juga.
---
Akhirnya...
Mungkin kita nggak bisa ngatur semuanya.
Tapi kita bisa berhenti kasih input-input rusak.
Berhenti kirim virus dalam bentuk trauma lama yang dibungkus "demi kebaikanmu, Nak."
Karena anak itu bukan sekadar warisan genetik,
Tapi draft hidup yang suatu saat akan menulis dirinya sendiri.
Dan berharap, kita sempat jadi bab yang baik dalam cerita mereka.
Komentar
Posting Komentar